← KEMBALI KE ARSIP

Diskusi Hangat, Wawasan Bertambah: Mengenal Agroforestry Bersama Ibu-Ibu Dusun Sambo

Penulis

Anidini Septina Zada - KKN-PPM UGM 2026

Kategori

Kegiatan

Diterbitkan Pada

Senin, 3 Agustus 2026

Diskusi Hangat, Wawasan Bertambah: Mengenal Agroforestry Bersama Ibu-Ibu Dusun Sambo

Suasana akrab terasa dalam pertemuan rutin Dasawisma RT 01 Dusun Sambo, Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, pada Selasa (28/7/2026). Seperti biasanya, ibu-ibu berkumpul untuk mengikuti agenda mingguan, mulai dari membahas kegiatan lingkungan hingga administrasi. Namun, di balik agenda rutin tersebut, pertemuan kali ini menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Setelah seluruh kegiatan Dasawisma selesai, mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada mengadakan sosialisasi mengenai Pengembangan Nilai Tambah Kopi Arabika Berbasis Agroforestry. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan konsep pertanian berkelanjutan sekaligus membuka diskusi tentang potensi pengembangan sektor pertanian di Desa Podosoko.

Forum Dasawisma dipilih karena sudah menjadi wadah yang dekat dengan masyarakat. Suasananya santai dan penuh keakraban sehingga peserta lebih nyaman untuk berdiskusi. Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif bertanya, menyampaikan pendapat, dan berbagi pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuat sosialisasi terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi penyampaian materi satu arah.

Mahasiswa KKN mulai menjelaskan mengenai konsep agroforestry, yaitu sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman pertanian dengan tanaman berkayu atau tanaman penaung dalam satu area. Melalui sistem ini, lahan tidak hanya menghasilkan satu jenis komoditas, tetapi juga tetap terjaga kelestariannya sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kopi arabika digunakan sebagai contoh penerapan sistem agroforestry. Dalam penyampaiannya dijelaskan bahwa tanaman penaung memiliki banyak manfaat, seperti menjaga kelembapan tanah, mengurangi paparan sinar matahari yang berlebihan, memperbaiki kondisi mikroklimat, dan membantu mempertahankan kesuburan lahan. Dengan pengelolaan yang tepat, kondisi tersebut juga dapat mendukung kualitas hasil panen.

Selain membahas teknik budidaya, peserta juga diajak melihat kopi sebagai komoditas yang memiliki peluang ekonomi lebih besar apabila diolah menjadi produk bernilai tambah. Selama ini hasil pertanian sering dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai jualnya masih terbatas. Padahal, melalui pengolahan pascapanen, pengemasan yang menarik, dan strategi pemasaran yang tepat, nilai ekonomi kopi dapat meningkat.

Suasana semakin menarik ketika sesi diskusi dimulai. Berbagai pertanyaan dan pengalaman bermunculan dari para peserta. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa kopi memang belum banyak dibudidayakan oleh warga RT 01 Dusun Sambo. Beberapa peserta memang memiliki tanaman kopi di pekarangan atau kebun, tetapi jenisnya bukan kopi arabika.

Salah seorang peserta kemudian menceritakan bahwa tanaman kopinya ditanam dengan jarak sekitar setengah atau satu meter antartanaman. Pengalaman tersebut menjadi pembahasan yang menarik. Mahasiswa KKN kemudian menjelaskan bahwa jarak tanam merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya kopi. Untuk kopi arabika, jarak tanam yang umumnya dianjurkan berkisar antara 2,5 hingga 3 meter agar tanaman memiliki ruang tumbuh yang cukup. Meski demikian, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan sistem budidaya yang digunakan.

Penjelasan tersebut memberikan wawasan baru bagi peserta. Dengan jarak tanam yang lebih longgar, tanaman dapat memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara secara lebih optimal. Selain itu, sirkulasi udara menjadi lebih baik sehingga kelembapan tidak terlalu tinggi. Kondisi ini dapat membantu menjaga kesehatan tanaman sekaligus mempermudah proses perawatan dan pemanenan.

Diskusi kembali berlanjut ketika peserta lain menceritakan masalah yang sering muncul pada tanaman kopinya. Ia mengatakan bahwa batang atau bagian tanaman sering ditumbuhi lapisan putih menyerupai jamur sehingga tanaman tampak kurang sehat. Ternyata, beberapa peserta lain juga pernah mengalami hal yang sama.

Menanggapi hal tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan bahwa munculnya jamur atau gangguan pada tanaman dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kelembapan yang tinggi, sirkulasi udara yang kurang baik, maupun serangan organisme pengganggu tanaman. Oleh karena itu, perawatan rutin sangat diperlukan, mulai dari mengatur jarak tanam, melakukan pemangkasan jika diperlukan, hingga menjaga kebersihan area tanam agar tanaman tetap sehat.

Sesi diskusi ini menjadi bagian yang paling menarik selama kegiatan berlangsung. Materi yang sebelumnya bersifat umum berubah menjadi pembahasan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pertanyaan yang muncul berasal dari pengalaman nyata para peserta sehingga pembahasannya terasa lebih relevan. Bagi mahasiswa KKN, momen ini juga menjadi kesempatan untuk memahami kondisi pertanian masyarakat secara langsung.

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Walaupun kopi arabika belum menjadi komoditas utama di Dusun Sambo, konsep agroforestry tetap dapat diterapkan sesuai dengan potensi tanaman yang dimiliki masyarakat. Prinsip utamanya bukan hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi, mahasiswa KKN-PPM UGM membagikan booklet edukasi kepada seluruh peserta. Booklet tersebut berisi informasi mengenai konsep agroforestry, manfaat tanaman penaung, cara budidaya kopi arabika, hingga peluang pengembangan nilai tambah kopi. Materi disusun menggunakan bahasa yang sederhana dan dilengkapi ilustrasi agar lebih mudah dipahami.

Pembagian booklet disambut dengan antusias oleh para peserta. Selain memperoleh penjelasan selama sosialisasi, mereka juga memiliki bahan bacaan yang dapat dipelajari kembali di rumah atau dibagikan kepada anggota keluarga maupun warga lainnya.

Kegiatan ini membuktikan bahwa pertemuan Dasawisma tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan berkoordinasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar bersama. Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, proses berbagi ilmu berlangsung lebih alami karena setiap peserta merasa dilibatkan dalam diskusi.

Bagi mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada, mengikuti kegiatan Dasawisma memberikan pengalaman yang sangat berharga. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga belajar mendengarkan cerita masyarakat, memahami kebutuhan mereka, dan mengenali berbagai tantangan yang dihadapi dalam bidang pertanian.

Pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari program yang besar. Sebuah pertemuan rutin, percakapan sederhana, dan diskusi yang terbuka dapat menjadi awal munculnya pengetahuan baru. Dari pembahasan mengenai jarak tanam hingga persoalan jamur pada tanaman kopi, semua menjadi bagian dari proses belajar bersama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan masyarakat saling berbagi pengalaman, memperluas wawasan, serta menumbuhkan harapan agar potensi pertanian di Desa Podosoko dapat terus berkembang secara berkelanjutan.